METODE INKUIRI ALTERNATIF UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR SISWA DALAM UPAYA PEMBAHARUAN PIPS
Murniyati
PGSD 4/2
ABSTRACT
Beberapa permasalahan dalam
pembelajaran IPS tidak hanya dihadapi oleh para guru atau pendidik PIPS di
Indonesia saja, melainkan oleh negara-negara lain termasuk Negara-negara maju,
hal ini dipengaruh oleh adanya permasalahan negara itu sendiri yang
berbeda-beda. Amerika memiliki masalah tersendiri dengan social studiesnya. Begitu
pula dengan Australia. Pendekatan pembelajaran yang di terapkan di Indoneia
sebagai upaya pembaharuan PIPS ternyata mengadopsi ide-ide dari Negara-negara
lain yang dianggap sesuai jika diterapkan di Negara kita ini yang dikembangkan untuk
meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
Tujuan
pembaharuan PIPS ialah Meningkatkan atau memperbaiki pembelajaran IPS. IPS
merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi,
sosiologi, antropologi. Perpaduan ini disebabkan karena adanya kesamaan kajian
yaitu manusia. Pendidikan IPS penting diberikan kepada siswa pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah, karena siswa sebagai anggota masyarakat perlu
mengenal masyarakat dan lingkungannya. Strategi pembelajaran yang dapat
diterapkan dalam pembelajaran IPS yaitu metode inkuri, karena metode ini dapat dijadikan sebagai
salah satu alternatif untuk menjawab tantangan maupun permasalahan yang sedang
di hadapi dalam dunia PIPS.
Key Word: Pembaharuan
IPS, pendekatan inkuiri, metode inkuiri
PENDAHULUAN
Berbagai
masalah sosial, ekonomi dan politik sebagai dampak globalisasi memerlukan
tindakan bersama antar bangsa dan seluruh masyarakat dunia. Salah satu caranya
dengan menyumbangkan pemikiran dan membuat keputusan pribadi yang bersifat
reflektif ( Hunt & Metcalf 1955) maupun untuk kepentingan umum dengan cara
menyalurkannya agar dapat mempengaruhi kebijakan umum (public policy).
Tujuan PIPS harus dapat membantu
para sisiwa mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan yang bersifat
reflektif sehingga siswa dapat memecahkan masalah pribadi dan membentuk
kebijakan umum dengan cara ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial. Hal ini
memerlukan kemampuan untuk berpikir. Bagaimnkah untuk mewujudkan hal tersebut ?
Kemampuan berpikir ini dapat dipelajari atau ditekuni secara individual maupun
berkelompok dengan cara berlatih.
Dalam rangka upaya pembaharuan PIPS,
untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis para sisiwa secara individual
para ahli pendidikan menawarkan beberapa strategi pembelajaran yang dapat
diterapkan dalam pembelajaran IPS yaitu metode inkuri, karena metode ini dapat dijadikan sebagai
salah satu alternatif untuk menjawab tantangan maupun permasalahan yang sedang
di hadapi dalam dunia PIPS. Bagaimanakah langkah-langkahnya ? Berikut ini
penulis akan membahas pendekatan inkuiri yang diterapkan untuk siswa sekolah
Dasar dan siswa Sekolah Menengah.
Upaya Pembaharun Pembelajaran IPS
Di Indonesia
Kurikulum 1964 menggunakan istilah
Pendidikan Kemasyarakatan. Mata pelajaran ini tergolong menjadi dua kelompok
yakni yang pertama disebut sebagai Kelompok Dasar (memuat tentang sejarah
Indonesia dan Geografi Indonesia), sedangkan kelompok yang kedua ialah Bahasa
Indonesia dan Civics dan kelompok cipta yang meliputi Sejarah Dunia dan
Geografi Dunia (S. Hamid Hassan, 1996). Pada tahun 1975, terjadi perubahan nama
menjadi Pendidikan Kewargaan Negara yang merupakan korelasi ilmu bumi, sejarah,
pengetahuan kewargaan Negara. Dalam kurikulum 1975 Ilmu Pengetahuan Sosial/ IPS
termasuk dalam kelompok pendidikan akademis. Sedangkan Pendidikan Moral
Pancasila (PMP) yang termasuk dalam kelompok pendidikan umum. IPS yang disebut
sebagai Pendidikan Akademis memuat misi menyampaikan values atau nilai-nilai
yang berlandaskan filsafat Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 , maka dengan
kata lain pelajaran IPS memiliki fungsi serta mendukung tercapainya tujuan
Pendidikan Moral Pancasila (PMP).
Seiring berjalannya waktu, pada
tahun 1980 Mandikbud Nugroho Notosusanto (alm) melahirkan idenya yang
memunculkan mata pelajaran PSPB. Bidang studi ini mirip dengan IPS/Sejarah dan
PMP. Upaya Perbaikan atau pembaharuan Kurikulum 1975 (Kurikulum yang
disempurnakan /KYD, 1975) baru berhasil direalisasikan tahun 1984. Kemudian
terjadi perubahan bahan kajian IPS pada tahun 1994. Isi dari kurikulum ini
ialah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial berdasarkan bahan kajian
geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata Negara dan sejarah.
Terjadinya pembaharuan bahan kajian
IPS tahun 1994 sehingga menimbulkan adanya pemisahan tujuan yang ingin dicapai
yaitu: Pelajaran IPS untuk tingkat SD bahan kajiannya adalah pengetahuan sosial
dan sejarah, dan IPS untuk tingkat Sekolah menengah bahan pokok kajiannya ialah
Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, Tata Negara dan Sejarah.
Terdapat
perbedadaan yang khas antara Kurikulum IPS 1994 dan Kurikulum IPS sebelumnya
yaitu dalam metode dan penilaian yang memberikan keleluasaan dan kekuasaan
otonom yang cukup luas pada guru dalam mengelola proses pembelajaran seoptimal
mungkin dikelas IPS.
Dalam
Pasal 37 UU Sisdiknas memaparkan bahwa
bidang studi IPS merupakan muatan wajib yang harus ada dalam kurikulum
pendidikan dasar (SD) dan menengah. Bentuk realisasi dari ketentuan undang
undang tersebut ialah lahirlah persatuan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Isi dari PP tersebut dikemukakan
bahwa standar nasional ialah kriteria minimal mengenai sistem pendidikan di
seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Pendidikan
Nasional diberlakukan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan dan pembiayaan. Hal tersebut
diatur dalam Pasal 35 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003.
Dalam
upaya pembaharan Pembelajaran IPS di Indonesia sendiri banyak mengadopsi
model-model pendekatan atau metode pendekatan dari Negara asing seperti Amerika
Serikat yang diusulkan oleh Komisi Nasional Social studies AS meliputi: Pembelajaran
secara terpadu (integrated) yang meliputi antar disiplin ilmu sosial, ilmu alam
dan humanisis, serta menerapkan strategi pembelajaran atau pendekatan yang memiliki ciri tentang kemampuan belajar
(inkuiri) yang indikatornya dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
Selain
Itu di Australia khususnya Negara bagian Victoria melahirkan pendekatan inkuiri
sebagai strategi pembelajaran social studies yang menjadi pendekatan sangat
penting. Ada 3 tahap utama dalam pendekatan inkuiri yaitu: Tahap
investivigation (tahap ini merupakan kegiatan untuk mengembangkan kemampuan
siswa seperti menliti, memproses, dan menginterpretasikan data atau informasi),
tahap kedua yaitu communication (kegiatannya
lebih cenderung pada meningkatkan kemampuan kecakapan siswa. Kegiatan ini
biasanya berupa penggunaan berbagai macam bentuk komunikasi yang meliputi:
ucapan, tulisan, garis dan statistik. Siswa belajar mengumpulkan, memproses,
menganalisis dan menyajikan informasi dengan
menggunakan berbagai format dan jenis metode), tahap keiga adalah
participation yaitu untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan dan rasa
percya diri siswa dalam bekerja sama dan dalam proses mengambil keputusan.
Indonesia
mengembangkan penerapan pendekatn inkuri untuk siswa sekolah dasar dengan tahap
yang sederhana berdasarkan pengalaman siswa dengan pengarahan sesuai dengan
kemampuan berpikirnya untuk mengembangkan kempampuan berpikir siswa sehingga
bertambahlah wawasan dan pengalamannya. Selain itu pendekatan inkuiri juga diterapkan
untuk siswa sekolah menengah.
Mengembangkan
kemampuan Berpikir Untuk Siswa Sekolah Dasar
Perlu
diketahui bahwa selain mengembangkan pendekatan inkuiri , pendekatan lain yang
dikembangkan oleh Savage dan Amstrong (1996) untuk mendorong siswa
mengembangkan kemampuan berpikir dalam PIPS yang meliputi beberapa hal seperti;
kemampuan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis (critical
thinking),kemampuan memecahkan masalah (problem solving), dan kemampuan dalam
mengambil keputusan (decision making)
Dari
beberapa model pendektan diatas diharapkan dapat membantu kemampuan berpikir siswa
dalam pembelajaran IPS khususnya. Model penerapan pembelajaran diatas harus
benar-benar disesuaikan dengan kondisi atau keadaan pembelajaran dalam mengaplikasikannya
sesuai dengan yang dibutuhkan, agar terciptanya penerapan metode pembelajaran
yang optimal dan tepat guna. Pendekatan metode inkuiri dijadikan sebagai salah
satu alternatif untuk menjawab tantangan maupun permasalahan yang sedang di
hadapi dalam dunia PIPS.
Pendekatan
Inkuiri (Inquiry approach)
Modal pembelajaran inkuiri
menggunakan pendekatan induktif (umum ke khusus). Contohnya Seorang guru di
Sekolah Dasar akan mengajarkan konsep “burung”. Langkah awal guru dapat
memperlihatkan gambar burung kepada para siswa,selanjutnya beberapa pertanyaan
bisa diajukan untuk mengidentifikasi ciri dari gambar yang telah ditunjukkan.
Lalu untuk tahap menyimpulkan pelajaran, guru dapat membantu mereka dalam
membuat definisi tentang burung. Dengan demikian, belajar inkuiri bisa dianggap
sebagai suatu kegiatan atau latihan dalam proses memperoleh pengetahuan.
Langkah-langkah pembelajaran inkuiri
menurut John Dewey seorang filsuf yang terkenal dari Amerika dalam buku klasiknya
How We Think yang diterbitkan tahun 1910 yaitu meliputi: menggambarkan indikator-indikator masalah atau situasi, memberikan
kemungkinan jawaban atau penjelasan, mengumpulkan fakta-fakta yang dapat
digunakan untuk menguji kebenaran jawaban atau penjelasan, menguji kebenaran
jawaban sesuai dengan bukti-bukti yang terkumpul, dan merumuskan kesimpulan
yang didukung oleh bukti yang terbaik.
Pembelajaran
inkuiri dapat digunakan pada semua jenjang . Jika pembelajaran inkuiri
diterapkan di sekolah dasar pada kelas rendah maka dapat melalui
pembelajaran-pembelajaran yang sederhana . sebagai contoh pembelajaran inkuiri
tentang peta dan globe pada SD kelas 3. Siswa mengawalinya dengan belajar
bagaimana dan bekerja menggunakan peta dan globe, berikut adalah uraiannnya.
Tujuan:
Diharapkan para siswa dapat mengenal simbol pada peta serta dapat menjelaskan
alasan mengapa harus memakai simbol yang berbeda-beda.
Prosedur:
Guru membimbing siswanya dengan langkah-langkah berikut:
Tahap
1
Guru:
Siapa diantara kamu yang pernah melihat sungai, danau ? Ada yang pernah melihat
laut ? (setiap pertanyaan dijawab oleh siswa. Kembangkan pertanyaan sampai
mereka menyatakan bahwa semua tempat diisi air). Orang yang membuat peta dan
globe memiliki kesulitan untuk dapat meyakinan orang lain, wilayah mana yang
berbentuk daratan dan berbentuk lautan.
Tahap
2
Guru:
bagaimana pembuat globe untuk mengatasi kesulitanya ? Bagaimana pendapat kamu
tentang cara menunjukkan lokasi lautan ?
Jawaban
yang kemungkinan dilakukan siswa antara lain : mungkin ada yang menulis kata air
pada tempat yang terdapat air, mungkin juga siswa menggambargelombang pada
tempat yang terdapat air, atau mereka mungkin mewarnai bagian yang ada airnya.
Tahap3
Guru:
Anggap saja kita para ilmuan yang menguji jawaban siaoa yang paling tepat. Mari
kita lihat bola dunia ini, (pegang bola dunia ini) Coba berikan nama laut ini ?
Baiklah, mari kita lihat laut Jawa. Ini ada di peta. Warnanya apa ? jawaban
siswa “biru” sekarang coba lihat Samudra Indonesia. Inilah ada di peta .
Warnanya apa? Siswa menjawab sama “biru”.
Tahap
4
Coba
lagi dengan melontarkan pertanyaan untuk membuktikan mereka menguasainya.
Berilah dorongan agar mereka mampu menyampaikan atau menceritakan apa yang
telah mereka ketahui
Guru: Berdasarkan informasi yang kita
telah ketahui bersama, bagaimana pembuat globe menggambar laut agar tidak sema
dengan simbol lainnya ? Maka siswa menjawab dengan warna biru
Tahap
5
Tahap
ini merupakan kesimpulan dari seluruh pelajaran serta dirancang untuk membuat
penjelasan umum yang dapat diterapkan situasi lainnya.
Guru:
Guru memberi tugas siswa untuk memaparkan wilayah perairan yang telah
dipelajari. Maka siswa menggambarkan wilayah perairan dengan simbol warna biru.
Penerapan
pendekatan inkuiri pada kelas atas tinggi bisa dengan cara melakukan analisis
terhadap suatu data.
Pendekatan Inkuiri Untuk Siswa
Sekolah Menengah
Pendekatan
mengajar dengan menearapkan jenis inkuiri sosial yang dapat membuahkan fakta,
konsep, generalisasi, dan teori. Tujuan pokoknya adalah untuk membangun teori.
Pendapat ini dikemukakan oleh Banks (1990). Tujuan utama inkuiri sosial ialah
memberikan kontribusi untuk para pengambil kebijakan dalam menghasilkan
keputusan-keputusannya. Hal ini karena adanya sudut pandang terhadap teori
inkuiri sosial dapat diterapkan dalam memecahkan persoalan sosial yang ada di
masyarakat sehingga mereka dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik dan memberikan prioritas pada masalah praktis
masyarakat. Model Inkuiri Sosial antara
lain sebgai berikut:
Perumusan Masalah ( problem
formulation )
Rumusan
masalah yang ilmiah biasanya menunjukkan hubungan antara varibel. Variabel
rumusan masalah itu ialah persepsi orang tua siswa dan sekolah unggulan. Kedua
variabel ini saling memberikan keterkaitan yaitu : variabel Independen/ bebas:
variabel yang dapat mengakibatkan perubahan pada variabel lainnya, dan variable
dependen/ tergantung: variable yang dipengaruhi akibat tindakan variabel luar
Perumusan Hipotesis ( Formulation
of Hypothesis )
Perumusan
hipotesis merupakan suatu dugaan atau jawaban sementara untuk mengarahkan
penelitian secara hipotesis. Dugaan atau jawaban sementara harus berkaitan
dengan rumsan masalah.
Definisi Istilah (
Konseptualisasi )
·
Peneliti harus membuat batasan
masalah dalam membuat sebuah definisi masalah, hal ini untuk menghindari
terjadinya perbedaan persepsi terhadap definisi konsep yang telah ditetapkan.
Membuat definisi secara operasional dalam konsep-konsep ilmu sosial termasuk
masalah yang tidak muah penerapannya dalam penelitian ilmu sosial.
Pengumpulan Data ( Collection of
Data )
Dalam
ilmu sosial para ilmuwan biasanya menggunakan tiga metode dalam analisis data
yaitu: eksperimen, eksperimen adalah
situasi labolatorium yang dikondisikan oleh peneliti untuk menentukan bagaimana
variabel-variabel itu saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama
lainnya. Yang kedua survey sampel
yaitu tindakan ini biasanya digunakan untuk mengumpulkan data. Sampel yang
digunakan harus benar-benar representatif atau dapat mewakili, dengan
menggunakan sampel lebih menghemat biaya dan meringngankan pekerjaan, dan yang
ketiga adalah studi kasus kegiatan
ini biasanya digunakan apabila peneliti akan meneliti karakteristik dari satu
unsur populasi.
Pengujian dan Analisis Data
(Evaluation and Analysis of Data)
Seorang
peneliti harus berusaha menentukan kredibilitas dan kebermaknaan informasi yang
dikumpulkan dengan menggunakan instrument yang telah teruji validitasnya agar
data lebih terpercaya .
Menguji Hipotesis u/ Memperoleh
Generalisasi dan Teori
Banks
(1979:56) mengemukakan bahwa “teori-teori
tersusun berdasarkan atas temuan dan penelitian sejumlah ilmuwan sosial,
dan teori akan ditinggalkan setelah adanya sejumlah hasil penelitian ilmuwan
sosial yang menemukan dalil-dalil yang tidak dapat dibuktikan “
Memulai Inkuiri Lagi
Para ilmuan penelitian akan terus melanjutkan
proses penelitiannya, guna memastikan dalil-dalilnya dapat diterima atau
ditolak. Hal ini dilakukan karena banyak dalil yang hanya dibuktikan secara
sepihak. Berbeda dengan model inkuiri sosial diatas yang tidak bersifat linier.
KESIMPULAN
Dari
beberapa uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan atau metode
untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam upaya pembaharuan PIPS
khususnya di Indonesia dapat diterapkan
pendekata inkuiri, yaitu sebgai berikut:

a.
Menggambarkan
indikator-indikator masalah atau situasi
b.
Memberikan
kemungkinan jawaban atau penjelasan
c.
Mengumpulkan
fakta-fakta yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran jawaban atau
penjelasan
d.
Menguji
kebenaran jawaban sesuai dengan bukti-bukti yang terkumpul
e.
Merumuskan
kesimpulan yang didukung oleh bukti yang terbaik

Model Inkuiri Sosial, langkah-langkahnya adalah:
a.
Perumusan
Masalah ( problem formulation )
b.
Perumusan
Hipotesis ( Formulation of Hypothesis )
c.
Definisi Istilah ( Konseptualisasi )
d. Pengumpulan Data ( Collection of
Data )
e.
Pengujian
dan Analisis Data (Evaluation and Analysis of Data)
f.
Menguji
Hipotesis u/ Memperoleh Generalisasi dan Teori
g.
Memulai Inkuiri Lagi
Selain mengembangkan pendekatan inkuiri,
pendekatan lain yang dikembangkan oleh Savage dan Amstrong (1996) yang meliputi
beberapa hal sebagai berikut:
ü Kemampuan
berpikir kreatif (creative thinking)
ü Berpikir
kritis (critical thinking)
ü Kemampuan
memecahkan masalah (problem solving)
ü Kemampuan
dalam mengambil keputusan (decision making)
DAFTAR PUSTAKA
Sapriya.
2011. Pendidikan IPS Konsep dan
Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya.
Gunawan, Rudi. 2011. Pendidikan
IPS Filosofi Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Alfabeta.
Semoga bermanfaat
mankasih artikelnya gan
BalasHapusdampak negatif dan positif teknologi TIK dalam kehidupan sehari hari
dampak posifit dan negatif teknologi informasi dan komunikasi TIK dalam bidang sosial budaya