Rabu, 02 Juli 2014

Upaya Pembaharun Pembelajaran IPS Di Indonesia, IPS, artikel


METODE INKUIRI ALTERNATIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR SISWA DALAM UPAYA PEMBAHARUAN PIPS
Murniyati
PGSD 4/2

ABSTRACT
            Beberapa permasalahan dalam pembelajaran IPS tidak hanya dihadapi oleh para guru atau pendidik PIPS di Indonesia saja, melainkan oleh negara-negara lain termasuk Negara-negara maju, hal ini dipengaruh oleh adanya permasalahan negara itu sendiri yang berbeda-beda. Amerika memiliki masalah tersendiri dengan social studiesnya. Begitu pula dengan Australia. Pendekatan pembelajaran yang di terapkan di Indoneia sebagai upaya pembaharuan PIPS ternyata mengadopsi ide-ide dari Negara-negara lain yang dianggap sesuai jika diterapkan di Negara kita ini yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
Tujuan pembaharuan PIPS ialah Meningkatkan atau memperbaiki pembelajaran IPS. IPS merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi. Perpaduan ini disebabkan karena adanya kesamaan kajian yaitu manusia. Pendidikan IPS penting diberikan kepada siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, karena siswa sebagai anggota masyarakat perlu mengenal masyarakat dan lingkungannya. Strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS yaitu metode inkuri,  karena metode ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk menjawab tantangan maupun permasalahan yang sedang di hadapi dalam dunia PIPS.
Key Word: Pembaharuan IPS, pendekatan inkuiri, metode inkuiri

PENDAHULUAN
Berbagai masalah sosial, ekonomi dan politik sebagai dampak globalisasi memerlukan tindakan bersama antar bangsa dan seluruh masyarakat dunia. Salah satu caranya dengan menyumbangkan pemikiran dan membuat keputusan pribadi yang bersifat reflektif ( Hunt & Metcalf 1955) maupun untuk kepentingan umum dengan cara menyalurkannya agar dapat mempengaruhi kebijakan umum (public policy).
            Tujuan PIPS harus dapat membantu para sisiwa mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan yang bersifat reflektif sehingga siswa dapat memecahkan masalah pribadi dan membentuk kebijakan umum dengan cara ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial. Hal ini memerlukan kemampuan untuk berpikir. Bagaimnkah untuk mewujudkan hal tersebut ? Kemampuan berpikir ini dapat dipelajari atau ditekuni secara individual maupun berkelompok dengan cara berlatih.
            Dalam rangka upaya pembaharuan PIPS, untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis para sisiwa secara individual para ahli pendidikan menawarkan beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS yaitu metode inkuri,  karena metode ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk menjawab tantangan maupun permasalahan yang sedang di hadapi dalam dunia PIPS. Bagaimanakah langkah-langkahnya ? Berikut ini penulis akan membahas pendekatan inkuiri yang diterapkan untuk siswa sekolah Dasar dan siswa Sekolah Menengah.

Upaya Pembaharun Pembelajaran IPS Di Indonesia
            Kurikulum 1964 menggunakan istilah Pendidikan Kemasyarakatan. Mata pelajaran ini tergolong menjadi dua kelompok yakni yang pertama disebut sebagai Kelompok Dasar (memuat tentang sejarah Indonesia dan Geografi Indonesia), sedangkan kelompok yang kedua ialah Bahasa Indonesia dan Civics dan kelompok cipta yang meliputi Sejarah Dunia dan Geografi Dunia (S. Hamid Hassan, 1996). Pada tahun 1975, terjadi perubahan nama menjadi Pendidikan Kewargaan Negara yang merupakan korelasi ilmu bumi, sejarah, pengetahuan kewargaan Negara. Dalam kurikulum 1975 Ilmu Pengetahuan Sosial/ IPS termasuk dalam kelompok pendidikan akademis. Sedangkan Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang termasuk dalam kelompok pendidikan umum. IPS yang disebut sebagai Pendidikan Akademis memuat misi menyampaikan values atau nilai-nilai yang berlandaskan filsafat Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 , maka dengan kata lain pelajaran IPS memiliki fungsi serta mendukung tercapainya tujuan Pendidikan Moral Pancasila (PMP).
            Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1980 Mandikbud Nugroho Notosusanto (alm) melahirkan idenya yang memunculkan mata pelajaran PSPB. Bidang studi ini mirip dengan IPS/Sejarah dan PMP. Upaya Perbaikan atau pembaharuan Kurikulum 1975 (Kurikulum yang disempurnakan /KYD, 1975) baru berhasil direalisasikan tahun 1984. Kemudian terjadi perubahan bahan kajian IPS pada tahun 1994. Isi dari kurikulum ini ialah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial berdasarkan bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata Negara dan sejarah.
            Terjadinya pembaharuan bahan kajian IPS tahun 1994 sehingga menimbulkan adanya pemisahan tujuan yang ingin dicapai yaitu: Pelajaran IPS untuk tingkat SD bahan kajiannya adalah pengetahuan sosial dan sejarah, dan IPS untuk tingkat Sekolah menengah bahan pokok kajiannya ialah Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, Tata Negara dan Sejarah.
Terdapat perbedadaan yang khas antara Kurikulum IPS 1994 dan Kurikulum IPS sebelumnya yaitu dalam metode dan penilaian yang memberikan keleluasaan dan kekuasaan otonom yang cukup luas pada guru dalam mengelola proses pembelajaran seoptimal mungkin dikelas IPS.
Dalam Pasal 37 UU  Sisdiknas memaparkan bahwa bidang studi IPS merupakan muatan wajib yang harus ada dalam kurikulum pendidikan dasar (SD) dan menengah. Bentuk realisasi dari ketentuan undang undang tersebut ialah lahirlah persatuan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Isi dari PP tersebut dikemukakan bahwa standar nasional ialah kriteria minimal mengenai sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Pendidikan Nasional diberlakukan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan dan pembiayaan. Hal tersebut diatur dalam Pasal 35 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003.
Dalam upaya pembaharan Pembelajaran IPS di Indonesia sendiri banyak mengadopsi model-model pendekatan atau metode pendekatan dari Negara asing seperti Amerika Serikat yang diusulkan oleh Komisi Nasional Social studies AS meliputi: Pembelajaran secara terpadu (integrated) yang meliputi antar disiplin ilmu sosial, ilmu alam dan humanisis, serta menerapkan strategi pembelajaran atau pendekatan yang  memiliki ciri tentang kemampuan belajar (inkuiri) yang indikatornya dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
Selain Itu di Australia khususnya Negara bagian Victoria melahirkan pendekatan inkuiri sebagai strategi pembelajaran social studies yang menjadi pendekatan sangat penting. Ada 3 tahap utama dalam pendekatan inkuiri yaitu: Tahap investivigation (tahap ini merupakan kegiatan untuk mengembangkan kemampuan siswa seperti menliti, memproses, dan menginterpretasikan data atau informasi), tahap kedua yaitu  communication (kegiatannya lebih cenderung pada meningkatkan kemampuan kecakapan siswa. Kegiatan ini biasanya berupa penggunaan berbagai macam bentuk komunikasi yang meliputi: ucapan, tulisan, garis dan statistik. Siswa belajar mengumpulkan, memproses, menganalisis dan menyajikan informasi dengan  menggunakan berbagai format dan jenis metode), tahap keiga adalah participation yaitu untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan dan rasa percya diri siswa dalam bekerja sama dan dalam proses mengambil keputusan.
Indonesia mengembangkan penerapan pendekatn inkuri untuk siswa sekolah dasar dengan tahap yang sederhana berdasarkan pengalaman siswa dengan pengarahan sesuai dengan kemampuan berpikirnya untuk mengembangkan kempampuan berpikir siswa sehingga bertambahlah wawasan dan pengalamannya. Selain itu pendekatan inkuiri juga diterapkan untuk siswa sekolah menengah.
Mengembangkan kemampuan Berpikir Untuk Siswa Sekolah Dasar
Perlu diketahui bahwa selain mengembangkan pendekatan inkuiri , pendekatan lain yang dikembangkan oleh Savage dan Amstrong (1996) untuk mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir dalam PIPS yang meliputi beberapa hal seperti; kemampuan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis (critical thinking),kemampuan memecahkan masalah (problem solving), dan kemampuan dalam mengambil keputusan (decision making)
Dari beberapa model pendektan diatas diharapkan dapat membantu kemampuan berpikir siswa dalam pembelajaran IPS khususnya. Model penerapan pembelajaran diatas harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi atau keadaan pembelajaran dalam mengaplikasikannya sesuai dengan yang dibutuhkan, agar terciptanya penerapan metode pembelajaran yang optimal dan tepat guna. Pendekatan metode inkuiri dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk menjawab tantangan maupun permasalahan yang sedang di hadapi dalam dunia PIPS.
Pendekatan Inkuiri (Inquiry approach)
            Modal pembelajaran inkuiri menggunakan pendekatan induktif (umum ke khusus). Contohnya Seorang guru di Sekolah Dasar akan mengajarkan konsep “burung”. Langkah awal guru dapat memperlihatkan gambar burung kepada para siswa,selanjutnya beberapa pertanyaan bisa diajukan untuk mengidentifikasi ciri dari gambar yang telah ditunjukkan. Lalu untuk tahap menyimpulkan pelajaran, guru dapat membantu mereka dalam membuat definisi tentang burung. Dengan demikian, belajar inkuiri bisa dianggap sebagai suatu kegiatan atau latihan dalam proses memperoleh pengetahuan.
            Langkah-langkah pembelajaran inkuiri menurut John Dewey seorang filsuf yang terkenal dari Amerika dalam buku klasiknya How We Think yang diterbitkan tahun 1910 yaitu meliputi: menggambarkan indikator-indikator masalah atau situasi, memberikan kemungkinan jawaban atau penjelasan, mengumpulkan fakta-fakta yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran jawaban atau penjelasan, menguji kebenaran jawaban sesuai dengan bukti-bukti yang terkumpul, dan merumuskan kesimpulan yang didukung oleh bukti yang terbaik.
Pembelajaran inkuiri dapat digunakan pada semua jenjang . Jika pembelajaran inkuiri diterapkan di sekolah dasar pada kelas rendah maka dapat melalui pembelajaran-pembelajaran yang sederhana . sebagai contoh pembelajaran inkuiri tentang peta dan globe pada SD kelas 3. Siswa mengawalinya dengan belajar bagaimana dan bekerja menggunakan peta dan globe, berikut adalah uraiannnya.
Tujuan: Diharapkan para siswa dapat mengenal simbol pada peta serta dapat menjelaskan alasan mengapa harus memakai simbol yang berbeda-beda.
Prosedur: Guru membimbing siswanya dengan langkah-langkah berikut:
Tahap 1
Guru: Siapa diantara kamu yang pernah melihat sungai, danau ? Ada yang pernah melihat laut ? (setiap pertanyaan dijawab oleh siswa. Kembangkan pertanyaan sampai mereka menyatakan bahwa semua tempat diisi air). Orang yang membuat peta dan globe memiliki kesulitan untuk dapat meyakinan orang lain, wilayah mana yang berbentuk daratan dan berbentuk lautan.
Tahap 2
Guru: bagaimana pembuat globe untuk mengatasi kesulitanya ? Bagaimana pendapat kamu tentang cara menunjukkan lokasi lautan ?
Jawaban yang kemungkinan dilakukan siswa antara lain : mungkin ada yang menulis kata air pada tempat yang terdapat air, mungkin juga siswa menggambargelombang pada tempat yang terdapat air, atau mereka mungkin mewarnai bagian yang ada airnya.
Tahap3
Guru: Anggap saja kita para ilmuan yang menguji jawaban siaoa yang paling tepat. Mari kita lihat bola dunia ini, (pegang bola dunia ini) Coba berikan nama laut ini ? Baiklah, mari kita lihat laut Jawa. Ini ada di peta. Warnanya apa ? jawaban siswa “biru” sekarang coba lihat Samudra Indonesia. Inilah ada di peta . Warnanya apa? Siswa menjawab sama “biru”.
Tahap 4
Coba lagi dengan melontarkan pertanyaan untuk membuktikan mereka menguasainya. Berilah dorongan agar mereka mampu menyampaikan atau menceritakan apa yang telah mereka ketahui
Guru: Berdasarkan informasi yang kita telah ketahui bersama, bagaimana pembuat globe menggambar laut agar tidak sema dengan simbol lainnya ? Maka siswa menjawab dengan warna biru
Tahap 5
Tahap ini merupakan kesimpulan dari seluruh pelajaran serta dirancang untuk membuat penjelasan umum yang dapat diterapkan situasi lainnya.
Guru: Guru memberi tugas siswa untuk memaparkan wilayah perairan yang telah dipelajari. Maka siswa menggambarkan wilayah perairan dengan simbol warna biru.
Penerapan pendekatan inkuiri pada kelas atas tinggi bisa dengan cara melakukan analisis terhadap suatu data.
Pendekatan Inkuiri Untuk Siswa Sekolah Menengah
Pendekatan mengajar dengan menearapkan jenis inkuiri sosial yang dapat membuahkan fakta, konsep, generalisasi, dan teori. Tujuan pokoknya adalah untuk membangun teori. Pendapat ini dikemukakan oleh Banks (1990). Tujuan utama inkuiri sosial ialah memberikan kontribusi untuk para pengambil kebijakan dalam menghasilkan keputusan-keputusannya. Hal ini karena adanya sudut pandang terhadap teori inkuiri sosial dapat diterapkan dalam memecahkan persoalan sosial yang ada di masyarakat sehingga mereka dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik dan  memberikan prioritas pada masalah praktis masyarakat. Model Inkuiri Sosial antara lain sebgai berikut:
Perumusan Masalah ( problem formulation )
Rumusan masalah yang ilmiah biasanya menunjukkan hubungan antara varibel. Variabel rumusan masalah itu ialah persepsi orang tua siswa dan sekolah unggulan. Kedua variabel ini saling memberikan keterkaitan yaitu : variabel Independen/ bebas: variabel yang dapat mengakibatkan perubahan pada variabel lainnya, dan variable dependen/ tergantung: variable yang dipengaruhi akibat tindakan variabel luar
Perumusan Hipotesis ( Formulation of Hypothesis )
Perumusan hipotesis merupakan suatu dugaan atau jawaban sementara untuk mengarahkan penelitian secara hipotesis. Dugaan atau jawaban sementara harus berkaitan dengan rumsan masalah.
Definisi Istilah ( Konseptualisasi )
·               Peneliti harus membuat batasan masalah dalam membuat sebuah definisi masalah, hal ini untuk menghindari terjadinya perbedaan persepsi terhadap definisi konsep yang telah ditetapkan. Membuat definisi secara operasional dalam konsep-konsep ilmu sosial termasuk masalah yang tidak muah penerapannya dalam penelitian ilmu sosial.
Pengumpulan Data ( Collection of Data )
Dalam ilmu sosial para ilmuwan biasanya menggunakan tiga metode dalam analisis data yaitu: eksperimen, eksperimen adalah situasi labolatorium yang dikondisikan oleh peneliti untuk menentukan bagaimana variabel-variabel itu saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Yang kedua survey sampel yaitu tindakan ini biasanya digunakan untuk mengumpulkan data. Sampel yang digunakan harus benar-benar representatif atau dapat mewakili, dengan menggunakan sampel lebih menghemat biaya dan meringngankan pekerjaan, dan yang ketiga adalah studi kasus kegiatan ini biasanya digunakan apabila peneliti akan meneliti karakteristik dari satu unsur populasi.
Pengujian dan Analisis Data (Evaluation and Analysis of Data)
Seorang peneliti harus berusaha menentukan kredibilitas dan kebermaknaan informasi yang dikumpulkan dengan menggunakan instrument yang telah teruji validitasnya agar data lebih terpercaya .
Menguji Hipotesis u/ Memperoleh Generalisasi dan Teori
Banks (1979:56) mengemukakan bahwa teori-teori tersusun berdasarkan atas temuan dan penelitian sejumlah ilmuwan sosial, dan teori akan ditinggalkan setelah adanya sejumlah hasil penelitian ilmuwan sosial yang menemukan dalil-dalil yang tidak dapat dibuktikan “
Memulai Inkuiri Lagi
Para ilmuan penelitian akan terus melanjutkan proses penelitiannya, guna memastikan dalil-dalilnya dapat diterima atau ditolak. Hal ini dilakukan karena banyak dalil yang hanya dibuktikan secara sepihak. Berbeda dengan model inkuiri sosial diatas yang tidak bersifat linier.


KESIMPULAN
Dari beberapa uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan atau metode untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam upaya pembaharuan PIPS khususnya di Indonesia  dapat diterapkan pendekata inkuiri, yaitu sebgai berikut:
*      Untuk siswa Sekolah Dasar (menurut John Dewey)
a.      Menggambarkan indikator-indikator masalah atau situasi
b.      Memberikan kemungkinan jawaban atau penjelasan
c.       Mengumpulkan fakta-fakta yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran jawaban atau penjelasan
d.      Menguji kebenaran jawaban sesuai dengan bukti-bukti yang terkumpul
e.       Merumuskan kesimpulan yang didukung oleh bukti yang terbaik
*      Untuk Siswa Sekolah Menengah oleh Banks (1990).
Model Inkuiri Sosial, langkah-langkahnya adalah:
a.      Perumusan Masalah ( problem formulation )
b.      Perumusan Hipotesis ( Formulation of Hypothesis )
c.       Definisi Istilah ( Konseptualisasi )
d.      Pengumpulan Data ( Collection of Data )
e.       Pengujian dan Analisis Data (Evaluation and Analysis of Data)
f.        Menguji Hipotesis u/ Memperoleh Generalisasi dan Teori

g.      Memulai Inkuiri Lagi

Selain mengembangkan pendekatan inkuiri, pendekatan lain yang dikembangkan oleh Savage dan Amstrong (1996) yang meliputi beberapa hal sebagai berikut:
ü  Kemampuan berpikir kreatif (creative thinking)
ü  Berpikir kritis (critical thinking)
ü  Kemampuan memecahkan masalah (problem solving)
ü  Kemampuan dalam mengambil keputusan (decision making)

DAFTAR PUSTAKA
Sapriya. 2011. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya.
Gunawan, Rudi. 2011. Pendidikan IPS Filosofi Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Alfabeta.

Semoga bermanfaat

1 komentar: